Liwetan – mitos, tradisi & trend

Akhir-akhir ini Liwetan menjadi trend di kota-kota besar, seperti kota Jakarta. Entah, dari siapa ide itu muncul sehingga menjadi populer dan menjadi sebuah trend di Indonesia. Grup arisan kita disini pun juga tertular oleh trend liwetan ini :)) Ternyata, kebersamaan menyantap hidangan liwetan sangat menyenangkan. Ditambah lagi dengan cuaca yang waktu itu sedang bagus-bagusnya dibulan April. Matahari bersinar, walaupun sedikit berangin tapi kita tetap bisa menikmati liwetan diluar, di kebun teman kita. Masing-masing dari kita membawa lauk atau sayur pendamping nasi dan ada yang menyiapkan daun pisang juga. Mencari daun pisang disini juga tidak mudah, kalau beruntung bisa mendapatkan yang segar di toko Asia.

Tapi benar ya, yang kita rasakan ketika menyantap liwetan a la Die Pute von Painem (nama grup arisan kita) itu hanya kenikmatan. Kenikmatan menyantap hidangan liwetan buatan bersama, di negara orang dan bersama-sama. Menyantapnya pakai tangan juga, jadi terasa lebih nikmat dan seolah-olah kita sedang berada di tanah air. Sungguh nikmat, pokoknya 🙂 *gambar dibawah adalah liwetan kita disini*

Liwetan banyak ditemui di upacara-upacara tradisi (baca ritual) di Jawa dan yang aku ingat dulu ketika masih kecil, orang-orang dikampung sering membuat liwetan di malam satu suro, dipertigaan jalan. Selain malam satu suro, liwetan juga diadakan di acara malam 17 Agustus sambil bergadang atau upacara menjaga sungai.

Ada juga tradisi liwetan wanita hamil saat gerhana bulan di Mojokerto, yang konon kalau wanita hamil tidak melaksanan ritual liwetan saat gerhana bulan, akan ada makhluk jahat (baca buto) yang akan mencuri bayi didalam kandungannya. Sampai sekarang masyarakat Mojokerto masih ada yang mempercayai mitos tersebut. Jadi, di saat sedang terjadi gerhana bulan, masyarakat setempat akan menggelar upacara liwetan bagi wanita hamil di halaman depan rumah. Masyarakat akan bergotong royong menyiapkan segala keperluan untuk upacara liwetan, dari alat liwetan (menanak nasi) sampai dengan lauk pauknya. Di halaman depan rumah akan dibuat semacam tempat tidur kecil dan ketika bulan mulai redup,  acara ritual liwetan segera dimulai dengan menghidupkan kompor dari tanah dan tamu undangan akan mengitari hidangan makanan yang sebagain sudah siap untuk disantap.

Acara ritual pertama yaitu diawali dengan liwetan dan bagi wanita yang hamil 7 bulan akan dihadirkan ditengah-tengah para tamu undangan. Prosesi pertamanya, wanita hamil harus menggigit kereweng (pecahan genting) sambil mengelus-elus perutnya dan berdoa. Kemudian wanita hamil akan disuruh merangkak dibawah tempat tidur (baca: mbrobos) yang sudah disiapkan tadi, dengan tetap menggigit secuil pecahan genting. Setelah prosesi berjalan lancar, acara ritual di akhiri dengan makan bersama yang diiringi dengan doa terlebih dahulu. Konon juga, ditengah-tengah terjadinya gerhana bulan, banyak anak-anak yang berlomba mencari pohon dan bergelantungan diatasnya sambil memukul-mukul batang pohon, seolah-olah membangunkan pohon tersebut. Aku sendiri kurang tahu kenapa ada tradisi memukul-mukul pohon itu. Bersamaan dengan selesainya gerhana bulan, acara liwetan juga akan berakhir.

Jadi, kenapa sekarang liwetan menjadi populer dan trend? Mungkin masyarakat sekarang lebih menyukai tradisi unik Indonesia? Kata liwet sebanrnya berasal dari Bahasa Jawa yang artinya menanak nasi. Tapi nasi liwet bukan asal menanak nasi saja, melainkan menanak nasinya diberi bumbu-bumbu tertentu yang rasanya akan menjadi gurih. Kalau di Solo ada yang namanya Nasi Liwet dan di Semarang ada yang namanya Nasi Ayam. Keduanya hampir mirip menunya, ada nasi, ayam ikung (opor), sayur labu dan telur rebus atau telur pindang.

Kalau ingin membuat Nasi Liwet atau Nasi Ayam sendiri, cek link dibawah ini:

**Aku sering sekali memakai resep-resep dari mbak Diah Didi. Karena cocok dan pas sekali takaran resepnya 🙂

Selamat berakhir pekan panjang!

Xoxo

Subscribe and share
error

Leave a Reply

error

Enjoy this blog? Please spread the word :)