Diuji Kesabaran

Manusia bisa berharap tapi hanya situasi yang menentukan. Lebaran tahun ini rasanya begitu berat. Sebelumnya udah terbiasa ngga bisa pulang pas lebaran dan ngga yang melow berat. Nangis iya, tapi ngga semewek ini. Seharian rasanya pengen nangis. Pas lagi video call-an dengan Bapak dan 2 kakakku, aku nahan untuk ngga nangis. Selesai video call dengan mereka langsung nangis. Ternyata perasaan ini ngga cuma aku aja yang mengalami. Teman yang juga dari Semarang dan tinggal di Jerman juga lagi melow tingkat dewa. Dia bilang, mungkin ini adalah efek dari pandemi, yang ngga memungkinkan kami untuk pulang dari tahun lalu. 

Semua orang pasti bertanya-tanya, kapan pandemi ini berakhir? Aku pun juga udah ngga sabar merasakan situasi normal kembali, dimana kita bisa saling berkumpul-kumpul tanpa masker, berpelukan dan bercanda tanpa ada batasan prokes. Kalau melihat orang-orang yang melanggar aturan prokes, rasanya pengen nabok orang-orang itu. Apa mereka ngga mau pandemi ini segera berakhir? Apa mereka ngga punya otak untuk mikir? Sorry not sorry, tapi aku bener-bener marah melihat orang-orang yang masih aja berkumpul melebihi batas aturan maksimal! Hadeeh (Tepok jidat). Padahal di berita-berita banyak yang memberitakan soal orang-orang yang melanggar prokes yang kena denda ratusan Euro. Kok ngga takut dan menganggap kesehatan mereka enteng yah? 

Ngomongi soal pandemi dan orang-orang yang melanggar prokes dan cuek ini, memang ngga akan ada habisnya. Orang-orang udah banyak yang stress, termasuk aku yang gagal pulang kampung 2x! Berharap setidaknya akhir tahun ini udah di imunisasi dan bisa pulang dengan aman dan selamat. Amin. Sekarang harus bersabar dulu. Untung zaman sekarang teknologinya udah canggih. Udah bisa kumpul-kumpul secara virtual. Setidaknya bisa mengurangi rasa kangen…

Jaga diri, jaga kesehatan diri dan orang di sekitarmu. Jangan lupa juga untuk selalu mematuhi prokes ditempatmu. 

Salam sehat

error

Enjoy this blog? Please spread the word :)