Disclosure: This post contains affiliate links. If you click on one of them, and make a purchase I’ll receive a commission

Pagi tadi adalah pagi yang sedikit mengesalkan dan hari ini adalah hari pertama mengajar kelas Zumba Gold di tempat olah raga di kota lain. Jarak dari rumah ada lebih dari 20km. 

Lalu lintas perjalanan pulang tadi juga lancar dan ngga ramai seperti biasanya. Tapi ketika sampai pertigaan dimana rambu-rambu lalu lintas menunjukkan bahwa aku punya prioritas untuk jalan terus dan yang dari kanan harus menunggu, tiba-tiba mobilnya nabrak mobilku dari belakang disebelah kanan. Sebenarnya aku sudah perhatikan kalau dia sedang ngga memperhatikan lalu lintas (ngga lihat kanan kiri sebelum belok) dan aku sudah memperlambat kecepatan untuk jaga-jaga sampai dia memperhatikan bahwa ada mobil dari arah kirinya – yaitu aku. Setelah mendekat, aku pikir dia sudah menengok dan melihatku. Ternyata beberapa detik setelah aku melewati dia, dia “nyenggol” si Heidi (mobilku) :-(.

 credits: google

Ini rambu-rambu lalu lintas yang ada dilokasi kecelakaanku. Bapak itu dari arah kiri yang bergaris lurus itu. Yang artinya dia tidak punya prioritas untuk jalan dan harus memberi akses jalan untuk kendaraan dari arah kanan dan kiri.

Aku langsung berhenti dan turun dari mobil, sedikit senyum dan tenang. Bapak itu juga langsung turun dari mobil dan melihat mana yang lecet. Setelah melihat lecet mobilku dan lecet mobil dia, dia bilang “wah mobilku juga rusak” Trus aku nanggepin, “Ya, itu bukan salah saya” (ini masih tenang, belum emosi). Bapak itu langsung bilang minta maaf dan ini adalah salah dia. Aku berfikir, ´Alhamdulillah, stay calm tapi muka serius, yes?´. Kemudian aku bilang kalau sebaiknya kita cari tempat parkir dan menelpon polisi. Bapak itu setuju. Akhirnya kita ke parkiran mobil bank yang ngga jauh dari lokasi kejadian. Setelah aku melporkan kejadiannya ke polisi lewat telpon, kita berdua sepakat untuk datang langsung ke kantor polisi dikota aku tinggal. Karna ternyata kita dari kota yang sama dan arah tujuan kita juga sama. Sebenarnya bisa menunggu polisi datang tapi karna arah dan tujuan kita sama, kita datang ke kantor polisi saja.

Sesampainya dikantor polisi, si bapak itu menjelaskan kejadian yang sebenarnya dan mengaku kurang memperhatikan situasi lalu lintas dan juga rambu-rambu. Lalu pak polisi yang lumayan ganteng itu (halah) meminta kita untuk menulis data, seperti: nama lengkap, alamat, nomor telefon, plat mobil, merk dan warna mobil dan juga jam kejadian. Data itu kemudian di fotokopi dan diberikan kita. Bapak itu diminta untuk menghubungi asuransi mobilnya dan setelah itu harus menghubungi aku untuk pertanggung jawaban dia berikutnya. 

Ngga lama setelah aku sampai rumah, bapak itu nelpon dan kasih kabar kalau dia sudah menghubungi kantor asuransinya dan asuransinya akan mengirim surat kabar ke aku dan juga bapak itu. Jadi sekarang tinggal menunggu kabar dari asuransinya. 

Masih bersyukur bapak itu mengakui kesalahannya dan mau bertanggung jawab. Karna disini juga banyak yang asal pergi dan ngga mau tanggung jawab. Jadi ingat waktu kecelakan di Indonesia Juli kemarin, orang yang nabrak mobil yang kita sewa ngotot ngga mau ganti rugi sambil nyalahin kita. Ya aku lawan dong, wong dia yang salah kok. Mentang-mentang bojoku bule ya, trus dia pakai alasan ngga punya duit dan harus bayar sekolah anak-anaknya. Suamiku langsung nunjuk jam tangannya dan bilang “ini, kamu punya jam bagus! Uang dari mana?” Orang itu malah cengengesan! Udah gitu datang orang lain juga, ngga tahu masalahnya tapi asbun kita yang salah. Langsung aku semprot aja didepan mukanya. Enak aja kalau ngomong. Dia pikir aku takut apa ya? Seandainya dari awal dia jujur dan mau tanggung jawab, aku ngga akan marah-marah. Tapi orang itu ngeselin banget dan tetep ngga mau bertanggung jawab. Kita tawarin untuk bawa mobil yang aku sewa ke bengkel dan yang nabrak nanti yang nanggung biaya perbaikannya. Karna aku kan harus tanggung jawab sama penyewa mobil dong. Eh, dia malah ngomong gini, “ntar biayanya dimahalin” Trus kakak iparku yang kebetulan ada di kejadian bilang, “Ya, kalau bapaknya kawatir, bapaknya ikut lihat pas dibenerin!”. Eh, tetep lho, orang itu langsung cari alasan lain. Intinya dia ngga mau tanggung jawab! Ih, nggapleki* pol, nda!

Dan ketika emosiku waktu itu meledak-ledak bak api unggun yang membara, aku lapor kejadiannya ke yang punya mobil. Ngga disangka-sangka tanggapan bapak penyewa mobil adalah kalem, sodara! super kaleeeem! Dan bapak itu malah bilang “ya, ngga apa-apa, mbak. Namanya juga kecelakaan”. Aku tanya, ” Bapak ngga minta nomor telpon dan KTP orang yang nabrak?”, Jawabnya, “Ah, ngga perlu, mbak” dan endingya dia malah nawarin kita kopi :))  Dalam hatiku, ´tiwas aku wis ngotot-ngotot njaluk ganti rugi sampai arep nggaruk-nggaruk aspal, pak!´ (keburu udah emosi berat dan minta ganti rugi sampai pengen garuk-garuk asal). Suamiku sampai bengong karna ini orang mobilnya ditabrak kok malah santai banget.

Ngga disangka reaksi penyewa mobil ini baik banget. Kayaknya ngga banyak orang yang seperti itu. Dan juga si bapak yang nabrak mobilku pagi ini. Mungkin kalau bapak itu ngga tanggung jawab dan nuduh aku yang salah, aku juga akan emosi. Ngga peduli mau orang Jerman, Afrika atau alien pun (eh, jangan ding. Alien lebih sangar, kayanya) akan aku lawan kalau aku benar. (sambilUnjukOtotLenganYangNggaSesangarAdeRai) 

Semoga ngga ada kejadian mobil ditabrak lagi. Amin.

Salam hati-hati xoxo